Selasa, 18 Oktober 2011

analisa kota

Penelitian ini dilakukan di dua lokasi simpang Pasteur-Pasirkaliki pada lengan simpang jalan Junjunan dan Simpang Merdeka-Martadinata pada lengan simpang jalan Juanda simpang bersinyal dengan sistem pengendalian lalulintas pada suatu daerah atau Area Traffic Control System (ACTS). Penelitian ini dilakukan dengan cara menghitung untuk mendapatkan berapa panjang antrian yang terjadi saat lampu merah aktif, Penghitungan ini dilakukan untuk kendaraan paling depan dan paling belakang dalam antrian, dan tundaan saat awal hijau kendaraan melintasi stop line, mengidentifikasi karakteristik panjang antrian dan prosentase antrian jenis kendaraan yang ditinjau dilokasi pengolahan data ini dilakukan dengan menggunakan Statistica Program For Sosial Science (SPSS) Versi 7,5 .Membandingkan perbedaan metode dibuat untuk mengevaluasi hubungan tundaan dan antrian kendaraan pada masing- masing lajur.

Panjang antrian yang terbentuk dilajur dua lebih panjang dari antrian dilajur satu. Sebagian besar pengemudi yang menuju kelintasan akan memeiliki kecenderungan yang sama, yaitu selalu berusaha mencari antrian yang terpendek dengan hambatan minimum.

Durasi lampu hijau memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tundaan dan panjang antrian untuk masing-masing lajur. Selama periode pengamatan durasi hijau sebesar 55,8 detik akan diperoleh rata-rata total tundaan sebesar 115,8 detik untuk jalan Junjunan sedangkan jalan Juanda total tundaan sebesar 88,2 detik durasi hijau sebesar 59,2 detik. Dari hasil analisis dilapangan tersebut satuan panjang antrian kendaraan untuk jalur pendekat lintasan diperoleh Lv = 3.48 m/kend atau Lp = 3.82 m/smp. Hasil tersebut ditetapkan sebagai jumlah sebagian besar kendaraan ringan (LV) seperti mobil penumpang. Untuk masing-masing lajur panjang antrian dengan metode multi regresi memiliki kesesuaian lebih baik, dibandingkan dengan metode MKJI menunjukkan hasil over estimate dengan kenyataan, hubungan panjang antrian terhadap tundaan kendaraan akan memberi pengaruh terhadap rata - rata tundaan per - kendaraan pada jalan Junjunan lajur satu sebesar 31.05 detik dan panjang antrian 67.36 meter Jalan Juanda lajur satu sebesar 20.31 detik dan panjang antrian 65.54 meter. Kendaraan dengan karakteristik dan keinginan pengemudi bergerak pada antrian lajur dua memiliki kecenderungan untuk merging kelajur satu perilaku tersebut akan menambah besar tundaan yang dialami oleh kendaraan dalam antrian.

Nama

: Anak Agung Ngurah Putra Oyong Wirayoga
Tgl. Lulus

:
Pembimbing

: Dr.-Ing.Ir. Ahmad Munawar, M.Sc.
Judul

: Penggunaan Program Sistem 3 L Dalam Analisis Kecelakaan Lalulintas (Studi Kasus Di Kabupaten Badung – Bali).
Abstrak


Pesatnya pertumbuhan penduduk dan jumlah kunjungan wisatawan di kabupaten Badung Propinsi Bali, menimbulkan tingkat pergerakan manusia dan kendaraan yang semakin tinggi. Salah satu efek negatif dari meningkatnya pergerakan manusia dan kendaraan adalah terjadi peningkatan jumlah kejadian kecelakaan lalu lintas di kabupaten Badung. Pendataan kecelakaan dan informasi lokasi rawan kecelakaan yang akurat sangat diperlukan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kecelakaan lalu lintas. Program yang dapat digunakan untuk membantu pendataan kecelakaan lalu lintas adalah program Sistem 3-L yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan Bandung bekerja sama dengan TRL-UK.

Program Sistem 3-L (Lahta Laka Lantas) merupakan program sistem pendataan kecelakaan lalu lintas yang dikembangkan dari program Microcomputer Accident Analysis Package (MAAP ver. 5) yang dilengkapi dengan perangkat analisis kecelakaan lalu lintas. Langkah awal yang dilakukan dalam penggunaan program Sistem 3-L adalah memasukkan data kecelakaan ke dalam formulir 3-L kemudian direkam ke dalam Program Sistem 3-L. Data kecelakaan lalu lintas yang telah terekam dianalisis dengan menggunakan Program Sistem 3-L, sehingga diketahui lokasi yang mempunyai frekuensi kecelakaan tinggi dan pola umum kecelakaan pada lokasi tersebut.

Penggunaan Program Sistem 3-L dalam analisis kecelakaan membutuhkan ketelitian dan kecermatan dalam proses pemasukan data informasi kecelakaan. Kesulitan dialami pada saat proses pemasukan maupun proses perekaman data kecelakaan lalu lintas karena banyaknya informasi kecelakaan yang harus dimasukan ke dalam Program Sistem 3-L.

Berdasarkan hasil pengolahan data yang dilakukan diperoleh gambaran umum kecelakaan yang terjadi berdasarkan jumlah kecelakaan, jumlah kendaraan yang terlibat dan jumlah korban yang terlibat kecelakaan. Hasil pengolahan memperlihatkan usia korban yang terbanyak terlibat kecelakaan adalah usia 16-20 tahun (28,4%), tipe tabrakan yang paling sering terjadi adalah tabrak depan-depan (47,6%), faktor penyebab kecelakaan paling banyak adalah faktor manusia karena kurang antisipasi (42,6%), hari yang paling sering terjadi kecelakaan adalah hari senin (18,4%), ruas jalan paling sering terjadi kecelakaan adalah ruas jalan negara dengan nomor ruas jalan N042 yaitu ruas jalan by pass Ngurah Rai. Dari masukkan koordinat (X,Y) diperoleh peta rawan kecelakaan dalam bentuk peta scan. Hasil evaluasi Program Sistem 3-L mengusulkan perlunya penyempurnaan pada program dalam proses perekamannya dengan memperbesar kolom masukan data kecelakaan sehingga informasi kecelakaan lalu lintas dapat secara lengkap diperoleh.dan pemetaan daerah rawan kecelakaan disarankan menggunakan peta digital agar lebih informatif

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar