Jumat, 05 Juni 2009

ORIENTASI PENCAPAIAN HASIL

Latar Belakang

Ide untuk menulis ini muncul setelah memperhatikan kriteria penilaian hampir mendekati dengan sasaran kompetensi umum yaitu Achievement Orientation (ACH) level 3. Penulis menyampaikan salut atas terselenggaranya lomba kreatifitas karyawan ini karena menurut pendapat penulis, lomba ini adalah suatu ajang untuk menampilkan kompetensi umum dari seorang pegawai, Adalah sebuah impelentasi untuk memberikan perhatian bekerja lebih baik bagi Perusahaan. Mari kita lihat potret diri kita pada kompetensi ini sebagai contoh : apakah dalam kita bekerja kita hanya mengerjakan apa yang diminta saja? Apakah perhatian kita lebih tertuju pada hal-hal diluar pekerjaan, seperti status, kehidupan social, keluarga. Apakah sulit untuk menguraikan uraian jabatan secara detail namun sangat antusias bila menceritakan aktivitas-aktivitas di luar perkerjaan.

Maksud dan Tujuan.
Alasan mengapa Orientasi Pencapaian Hasil perlu untuk diungkapkan menurut pendapat penulis adalah :
- Menurut kamus kompetensi ACH adalah suatu perhatian untuk bekerja dengan baik atau melampaui suatu standar prestasi.
- ACH adalah salah satu diantara empat kompetensi umum dalam sasaran kompetensi setiap pegawai dari grade yang terendah sampai dengan grade yang tertinggi.
- Setiap pegawai setidaknya mengetahui kompetensi tersebut.
- Meningkatkan lingkungan kerja yang kompetetif
- Meningkatkan kinerja Perusahaan dalam jangka penjang.
Ada delapan level dan indikator perilaku dari ACH mulai dari -1,0,1,2,3,4,5,6 dan mungkin hanya sebagian kecil pegawai yang tahu dan memahami definisi dari masing-masing level yang telah disebutkan di atas.


Realita.
Rumpun Jabatan
Level
Grade
Pendukung
1
2
3
A1, A2
B1, B2, C1
C2, D1, D2, E1
Manajer Fungsi
3
4
5
6
C2, D1, D2, E1
E2, E3, F1
F2, F3
G1

Dari data tersebut diatas mari kita simak makna yang terkandung dimasing-masing level. Sebagai contoh adalah ketidakmampuan untuk menguraikan pekerjaan secara detail namun sangat antusias bila menceritakan aktivitas-aktivitas di luar pekerjaan (-1).
Mengutip teori x dan teori Y dalam ilmu sumber daya manusia bahwa pada hakekatnya orang lebih cenderung pada hal-hal yang bersifat santai, jadi perilaku level (level -1) akan senantiasa muncul pada kativitas sehari-hari, sebagai contoh ngrumpi, ngobrol panjang lebar seolah-olah tidak ada batasan waktu. Bekerja keras tetapi tidak menunjukkan adanya standar keunggulan untuk menghasilkan hasil kerja yang istimewa (level 0). Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam aktivitas sehari-hari sering terdapat indicator perilaku yang dapat dikategorikan level (0) bahkan (-1), ini merupakan tantangan kedepan untuk dapat menerapkan suatu system sehingga kompetensi ACH dapat dipahami dengan mudah. Ingin bekerja dengan baik (1), bekerja untuk mencapai standar kerja yang sudah ditetapkan oleh manajemen (2), dari sekelompok pegawai yang berada di posisi grade B1, B2, C1 mempunyai sasaran kompetensi pada posisi ini, ini berarti dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari pegawai tersebut haruslah menggunakan cara-cara yang spesifik untuk mengukur hasil kerja terhadap standar kerja yang ditentukan manajemen. Ini berarti

Target yang harus dicapai
Meningkatkan kinerja ( level 3 )
Membuat perubahan spesifik dalam system atau metode kerja sendiri untuk meningkatkan kinerja tanpa menetapkan sasaran yang spesifik. Belajar dari pengalaman bahwa kelemahan yang ada sampai saat yang penulis alami adalah belum dapat melaksanakan coaching dengan baik, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain karena lebih terfokus pada sasaran pokok, boleh dikatakan bahwa proses ini tidak berjalan efektif mengingat begitu rumit dan banyaknya kompetensi yang mesti dikuasai. apakah penjabaran ACH ini bila diimplemetasikan pada pekerjaan sehari-hari. Perlu penambahan wawasan melalui literature yang erat hubungannya dengan ACH seperti peningkatan motivasi berprestasi, total productivity improvement. Kilas balik pada indikator perilaku bahwa hanya dengan menampilkan satu kompetensi ini ternyata begitu panjang dan begitu berat perjuangan yang harus dilalui, melakukan sesuatu lebih baik, lebih cepat, lebih efisien dengan biaya yang lebih rendah tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Tantangan Kedepan.
Mencapai sasaran menantang untuk diri sendiri dan orang lain (level 4), membuat analisa untung rugi (level 5), mengambil resiko wirausaha yang diperhitungkan (level 6) menurut pendapat penulis adalah tantangan kedepan yang mau tidak mau harus dicapai setiap pegawai apabila kita menginginkan kinerja yang bermutu.

Beberapa tahun berlalu, proses yang pernah dilakukan perlu untuk di-review kembali sehingga kita dapat membuat suatu konklusi dengan harapan dikemudian hari bila menghadapi proses serupa kita menjadi lebih matang dan berpengalaman. Ada beberapa kata kunci yang sebaiknya dipahami dalam membahas kompetensi ini :
Menciptakan lingkungan yang berfokus pada hasil yang bermutu.
Menetapkan sasaran yang produktif dan menantang
Memecahkan masalah untuk memenuhi sasaran.
Akhir kata, jalan terbaik untuk membangun kompetensi ini adalah belajar untuk berkata, berpikir dan berperilaku sebagaimana orang atau idola yang sudah mumpuni dan terbukti memiliki kompetensi ini.

Denpasar, 17 November 2005

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar